Selasa, 25 Januari 2011

Plato

Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan Plato dilahirkan dan berasal dari keluarga apa, hanya banyak yang meyakini bahwa Plato dilahirkan dari kalangan Aristokrat Athena sekitar tahun 427 SM. Plato adalah salah satu murid Socrates yang paling dekat dengan sang guru. Ketika gurunya dihukum mati oleh pengadilan negara pada 399 SM, pelaksanaan hukum mati tersebut membuat Plato benci kepada pemerintahan demokratis. Kematian gurunya membuat Plato enggan bergelut di dunia politik, padahal sebagai keturunan aristokrat bukanlah hal yang sulit untuk bergelut di dunia politik. Plato lebih memilih jalan hidup layaknya sang guru, yakni menjadi Filosof.
Bagi Plato, Socrates adalah “orang terbijaksana, terjujur, terbaik dari semua manusia yang saya pernah kenal”.Maka tak heran jika pemikiran Plato banyak yang terpengaruh oleh Socrates, dan salah satunya adalah mengenai Ide. Pandangan Plato mengenai Ide sangat berbeda dengan pemahaman ide pada saat ini, yakni :
Menurut Plato ide tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Ide tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada ide. Ide adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Ide sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Ide-ide ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, ide tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari ide dua, ide dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan ide genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan ide-ide tersebut. Puncak inilah yang disebut ide yang “indah”. Ide ini melampaui segala ide yang ada.
Masa muda Plato terjadi ketika Athena mengalami masa kemunduran, hal ini dikarenakan adanya perang besar saat itu yang melibatkan Athena dengan Sparta yakni perang Peloponnesos (431-403 SM). Mundurnya Athena dan meninggalnya Socrates, akhirnya membut Plato memutuskan untuk berkelana meninggalkan Athena. Dia berkelana dari Sicilia dan Italia, bahkan kabarnya dia berkelana hingga Afirka, Mesir dan beberapa negara di Timur Tengah. Kabarnya Plato berkelana selama 10-12 tahun, dan setelah itu kembali lagi ke Athena.
Sekitar tahun 387 SM dia kembali ke Athena, mendirikan perguruan di sana, sebuah akademi yang berjalan lebih dari 900 tahun. Akademi yang dia beri nama Academica itu tidak sekedar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, lebih dari itu diharapkan menjadi pabrik pembentukan dan penempa orang-orang yang dapat membawa perubahan bagi Yunani. Lembaga pendidikan ini diharapkan dapat membentuk manusia yang berpengetahuan yang didapatkan dengan cara apapun dan dilakukan atas nama negara dalam rangka mencapai kebajikan. Di lembaga pendidikan ini pula yang mempertemukan Plato dengan muridnya yang kelak menjadi Filosof layaknya dia, yakni Aristoteles. Pada waktu itu usia Aristoteles adalah 17 tahun dan Plato 60 tahun. Namun sayang perjumpaanyaan dengan sang murid tidak berlangsung lama, karena 10 tahun kemudian Plato wafat, dan beberapa sumber mengatakan bahwa Plato meninggal dalam keadaan menulis (menulis merupakan kegemaran Plato). Plato menulis tak kurang dari tiga puluh enam buku, kebanyakan menyangkut masalah politik dan etika selain metafisika dan teologi, karya-karya plato yang paling tersohor adalah Republica (Republik), Dialogue (Dialog), Statesman (Negarawan), dan Apologia(Pembelaan).
Plato juga berbicara mengenai keadilan, dalam karyanya Politea (republik) yang arti sebenarnya adalah konstitusi dalam pengertian suatu jalan/cara bagi individu-individu dalam berhubungan sesamanya dalam pergaulan hidup masyarakat. Dalam Politea juga bercerita “tentang keadilan”, keadilan merupakan tema pokok dalam buku tersebut. Keadilan berarti seseorang membatasi dirinya pada kerja dan tempat dalam hidup yang sesuai dengan panggilan kecakapan dan kesanggupannya.
Selain berbicara mengenai keadilan, Plato juga berbicara mengenai negara ideal. Menurutnya, negara ideal menganut prinsip kebajikan (virtue). Pandangan Plato mengenai sebuah negara tidak jauh berbeda dengan Socrates, negara yang baik adalah negara yang berpengetahuan dimana negara tersebut dipimpin oleh orang yang bijak (the philosopher king). Dimana ciri dari negara yang bijak itu adalah dipimpin oleh rezim aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan lewat pungutan suara penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama. Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut “guardian” harus menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan kualitas.

Untuk mewujudkan negara ideal, hanya mungkin diwujudkan berdasar budi pekerti penduduknya, dan untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu diadakan pendidikan yang diatur sedemikian rupa oleh negara. Menurut Plato, anak usia 10 tahun ke atasa menjadi urusan negara. Dasar utama pendidikan anak-anak adalah Gymnastic (senam) dan musik, selain diberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Senam dianggap dapat menyehatkan badan dan pikiran, maka tak heran tidak lama kemudian muncul pepatah latin yakni mensana incorpore sanno. Untuk umur 14-16 tahun anak diajarkan bermain musik, puisi serta mengarang untuk menanamkan jiwa yang halus, budi yang halus dengan menjauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa serta mudah menimbulkan nafsu buruk. Usia 16-18 tahun diberikan pelajaran matematika untuk membimbing jalan pikiran, selain diajarkan dasar-dasar agama serta adab kesopanan, karena negara atau bangsa tidak akan kuat jika tidak percaya terhadap Tuhan. Pada umur 20 tahun diadakan seleksi yang lebih tinggi untuk mengikuti pendidikan mengenai adanya idea (ide) dan dialektika dan mereka mendapat kesempatan untuk memangku jabatan yang lebih tinggi.
Bagi Plato, kepentingan masyarakat harus lebih diutamkan daripada kepentingan individu. Dengan demikian akan timbul rasa kolektivisme atau rasa kebersamaan dariapada sifat individualisme. Plato merupakan filosof pertama, dan dalam jangka waktu lama nyatanya memang cuma dia, yang mengusulkan persamaan kesempatan tanpa memandang kelamin. Mengenai kehidupan sosial, Plato mengemukakan semcam komunisme yang melarang adanya hak milik dan kehidupan berfamili. Menurutnya, adanya hak milik akan mengurangi dedikasi dan loyalitas seseorang pada kewajibannya sebagai anggota masyarakat. Namun, “komunisme” ala Plato ini hanya terbatas pada kelas penguasa dan pembantu penguasa saja, sedangkan kelas pekerja diperbolehkan memilik hak milik primadi dan berfamili, karena merekalah yang menghidupi kelas lainya dan tugas mereka adalah untuk menyelenggarakan produksi perekoniomian.
Plato mendasarkan pada prinsip larangan atas kepemilikan pribadi, baik dalam bentuk harta, keluarga maupun anak. Argumentasinya adalah menghindarkan negara dari berbagai pengaruh erosive negara kota dan destruktif yang pada akhirnya menciptakan disintegrasi negara kota. Kecemburuan, kesenjangan sosial, dan tiap orang yang berusaha menumpuk kekayaan serta milik pribadi tanpa batas (dalam bahasanya marx adalaha capital acumulation), hal ini dapat menimbulkan kompetisi bebas serta institusionalisasi. Jadi hak milik bersama, kolektivisme atau komunisme menjadi sebuah gagasan. Sebagai contoh adalah hak kepemilikan atas anak, seorang ibu tidak bisa memiliki anak kandungnya karena anak tersebut dipelihara oleh negara dan sang anak tidak boleh tahu siapa ayah dan ibunya.
Pemikiran Plato sesungguhnya berdasar pada corak masyarakat saat itu, bukan memaksakan sebuah sistem kepada masyarakat Athena. Pada saat itu, kesenjangan antara si kaya dan si miskin sangat mencolok, pertentangan politik pun kian hebat. Sistem pemerintahan tidak pernah berjalan secara tetap, karena selalu terjadi perubahan dari aristokrasi, oligarki hingga demokrasi.
Mengenai masyarakat, Plato membagikan masyarakat menjadi 3 golongan, dan penggolongan ini tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah diutarakan oleh gurunya.
a. Golongan pemertintah atau filsuf
Merupakan orang terpilih yang paling cakap dari kelas penjaga. Bertugas membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaanya, juga memperdalam ilmu pengetahuan dengan segala kebijaksanaannya.
b. Golongan pengusaha
Mereka lebih bergerak dalam bidang perekonomian dan berproduksi namun tidak memerintah.
c. Golongan cerdik pandai
Mereka diberi makan dan dilindungi, serta mereka juga memerintah.
Tentunya masih banyak sekali ide atau pemikiran Plato yang lainnya. Pemikiran Plato bisa dikatakan menjadi dasar pemikiran filsafat barat. Bahkan tidak sedikit pula ilmuwan muslim pada abad pertengahan seperti Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, bahkan hingga karya Imam Ghazali. Dan semua berlanjut hingga masa renaisans di Eropa, dan bisa juga perkembangan ilmu pengetahuan hingga saat ini.

Berikut beberapa kutipan yang terkenal dari Plato :
"Jika engkau ingin mengetahui derajatmu di tengah masyarakat, maka perhatikanlah orang yang engkau cintai tanpa alasan"
"Kebaikan menyatukan orang-orang yang mencintainya meskipun mereka dalam keadaan saling memarahi dan membenci"
"Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja"
"Janganlah engkau berteman dengan orang jahat karena sifatmu akan mencuri sifatnya tanpa engkau sadari"
"Orang yang berilmu mengetahui orang yang bodoh karena dia pernah bodoh, sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang berilmu karena dia tidak pernah berilmu"
"Budi pekerti yang tinggi adalah rasa malu terhadap diri sendiri"
"Jika orang tidak melakukan kejahatan dan tidak bersedih akan sesuatu yang di alaminya, maka dia tentu akan merasa tenang"
"Kerendahan seseorang di ketahui melalui dua hal : banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna dan bercerita padahal tidak di tanya"
"Jangan terlalu banyak mengenal orang sebab kalian lebih sering disakiti oleh orang yang kalian kenal, sedangkan orang yang tidak kalian kenal nyaris tidak dapat menyakiti kalian"
"Cinta adalah gerak jiwa yang kosong tanpa pikiran"

Kamis, 20 Januari 2011

Aristoteles


Nyaris tak terbantahkan, Aristoteles seorang filosof dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa lampau. Dia memelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir tiap cabang falsafah dan memberi sumbangsih tak terperikan besarnya terhadap ilmu pengetahuan.
Banyak ide-ide Aristoteles kini sudah ketinggalan zaman. Tetapi yang paling penting dari apa yang pernah dilakukan Aristoteles adalah pendekatan rasional yang senantiasa melandasi karyanya. Tercermin dalam tulisan-tulisan Aristoteles, sikapnya bahwa tiap segi kehidupan manusia atau masyarakat selalu terbuka untuk obyek pemikiran dan analisa. 
Pendapat Aristoteles, alam semesta tidaklah dikendalikan oleh serba kebetulan, oleh magi, oleh keinginan tak terjajaki kehendak dewa yang terduga, melainkan tingkah laku alam semesta itu tunduk pada hukum-hukum rasional. Kepercayaan ini menurut Aristoteles diperlukan bagi manusia untuk mempertanyakan tiap aspek dunia alamiah secara sistematis dan kita mesti memanfaatkan baik pengamatan empiris dan alasan-alasan yang logis sebelum mengambil keputusan. Rangkaian sikap-sikap ini, yang bertolak belakang dengan tradisi, takhyul dan mistik telah mempengaruhi secara mendalam peradaban Eropa.
Aristoteles dilahirkan di kota Stagira, Macedonia, 384 SM. Ayahnya seorang ahli fisika kenamaan. Pada umur tujuh belas tahun Aristoteles pergi ke Athena belajar di Akademi Plato. Dia menetap di sana selama dua puluh tahun hingga tak lama Plato meninggal dunia. Dari ayahnya, Aristoteles mungkin memperoleh dorongan minat di bidang biologi dan "pengetahuan praktis". Di bawah asuhan Plato dia menanamkan minat dalam hal spekulasi filosofis.
Pada tahun 342 SM, Aristoteles pulang kembali ke Macedonia, menjadi guru seorang anak raja umur tiga belas tahun yang kemudian dalam sejarah terkenal dengan nama Alexander Yang Agung. Aristoteles mendidik si Alexander muda dalam beberapa tahun. Di tahun 335 SM, sesudah Alexander naik tahta kerajaan, Aristoteles kembali ke Athena dan di situ dibukanya sekolahnya sendiri, Lyceum. Dia berada di Athena dua belas tahun, satu masa yang berbarengan dengan karier penaklukan militer Alexander. Alexander tidak minta nasihat kepada bekas gurunya, tetapi dia berbaik hati menyediakan dana buat Aristoteles untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan. Mungkin ini merupakan contoh pertama dalam sejarah seorang ilmuwan menerima jumlah dana besar dari pemerintah untuk maksud-maksud penyelidikan dan sekaligus merupakan yang terakhir dalam abad-abad berikutnya.
Walau begitu, pertaliannya dengan Alexander mengandung pelbagai bahaya. Aristoteles menolak secara prinsipil cara kediktatoran Alexander dan tatkala si penakluk Alexander menghukum mati sepupu Aristoteles dengan tuduhan mengkhianat, Alexander punya pikiran pula membunuh Aristoteles. Di satu pihak Aristoteles kelewat demokratis di mata Alexander, dia juga punya hubungan erat dengan Alexander dan dipercaya oleh orang-orang Athena. 
Tatkala Alexander mati tahun 323 SM, golongan anti-Macedonia memegang tampuk kekuasaan di Athena dan Aristoteles pun didakwa kurang ajar kepada dewa. Aristoteles, teringat nasib yang menimpa Socrates 76 tahun sebelumnya, lari meninggalkan kota sambil berkata dia tidak akan diberi kesempatan kedua kali kepada orang-orang Athena berbuat dosa terhadap para filosof. Aristoteles meninggal di pembuangan beberapa bulan kemudian di tahun 322 SM pada umur enam puluh dua tahun.


Aristoteles dengan muridnya, Alexander

Hasil murni karya Aristoteles jumlahnya mencengangkan. Empat puluh tujuh karyanya masih tetap bertahan. Daftar kuno mencatat tidak kurang dari seratus tujuh puluh buku hasil ciptaannya. Bahkan bukan sekedar banyaknya jumlah judul buku saja yang mengagumkan, melainkan luas daya jangkauan peradaban yang menjadi bahan renungannya juga tak kurang-kurang hebatnya. Kerja ilmiahnya betul-betul merupakan ensiklopedi ilmu untuk zamannya. Aristoteles menulis tentang astronomi, zoologi, embriologi, geografi, geologi, fisika, anatomi, fisiologi, dan hampir tiap karyanya dikenal di masa Yunani purba. Sebagian hasil karya ilmiahnya, merupakan kumpulan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari para asisten yang spesial digaji untuk menghimpun data-data untuknya, sedangkan sebagian lagi merupakan hasil dari serentetan pengamatannya sendiri.
Untuk menjadi seorang ahli paling jempolan dalam tiap cabang ilmu tentu kemustahilan yang ajaib dan tak ada duplikat seseorang di masa sesudahnya. Tetapi apa yang sudah dicapai oleh Aristoteles malah lebih dari itu. Dia filosof orisinal, dia penyumbang utama dalam tiap bidang penting falsafah spekulatif, dia menulis tentang etika dan metafisika, psikologi, ekonomi, teologi, politik, retorika, keindahan, pendidikan, puisi, adat-istiadat orang terbelakang dan konstitusi Athena. Salah satu proyek penyelidikannya adalah koleksi pelbagai negeri yang digunakannya untuk studi bandingan.
Mungkin sekali, yang paling penting dari sekian banyak hasil karyanya adalah penyelidikannya tentang teori logika, dan Aristoteles dipandang selaku pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hal ini sebetulnya berkat sifat logis dari cara berfikir Aristoteles yang memungkinkannya mampu mempersembahkan begitu banyak bidang ilmu. Dia punya bakat mengatur cara berpikir, merumuskan kaidah dan jenis-jenisnya yang kemudian jadi dasar berpikir di banyak bidang ilmu pengetahuan. Aristoteles tak pernah kejeblos ke dalam rawa-rawa mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh mengutarakan pendapat-pendapat praktis. 
Pengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari sungguh mendalam. Di zaman dahulu dan zaman pertengahan, hasil karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis, Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium mempelajari karyanya dan menaruh banyak kekaguman. 
Perlu juga dicatat, buah pikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan berabad-abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat. Ibnu Rusyd (Averroes), filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba merumuskan suatu perpaduan antara teologi Islam dengan rasionalismenya Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Ada pula hasil pemikiran Summa Theologia cendikiawan St. Thomas Aquinas. Di luar daftar ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.
Beberapa ide Aristoteles kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya sejalan dengan garis hukum alam. Dan dia percaya kerendahan martabat wanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini tentu saja mencerminkan pandangan yang berlaku pada zaman itu.

Berikut beberapa kutipan yang terkenal dari Aristoteles :
"Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan kejahatan"
"Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib suatu emperium tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya" 
"Diri kita dibentuk dari apa yang kita lakukan berulang kali; sedangkan kesuksesan bukan merupakan usaha dan tindakan melainkan akibat dari suatu kebiasaan"
"Barangsiapa berhasil mengalahkan ketakutannya akan menjadi orang yang benar-benar bebas"